Menurunnya permukaan tanah juga menyebabkan Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara, kembali ambles. Selain itu, jalan di tiga wilayah Ibukota harus pasrah diterjang rob atau banjir air laut pasang. Kondisi ini melengkapi derita Jakarta yang secara bersamaan dibetot melorotnya tujuh jembatan.
Sebelumnya Pos Kota melansir hasil penelitian Konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS) menyebutkan jembatan tersebut berada di Kamal Muara, Jakarta Utara, Mangga Dua, Jakarta Barat, Ancol, Jakarta Utara, Pluit, Jakarta Utara, Pantai Mutiara, Jakarta Utara, Gunung Sahari, Jakarta Pusat, dan Mangga Besar, Jakarta Barat.
Tak hanya jembatan, turunnya permukaan tanah juga mengakibatkan jalanan juga merosot. Pos Kota melihat Jalan RE Martadinata ambles lagi. Paling anyar jalanan di depan Stasiun Ancol, Pademangan Timur, Pademangan, ambrol sepanjang 20 meter, berlokasi sekitar 20 kilometer dari tempat ambles sebelumnya.
Akibatnya jalan tersebut mengalami penyempitan sehingga arus lalu lintas macet parah. Pengendara mtor dan mobil harus berebut dan bersusah-payah melintasinya. “Saya khawatir, jika pemerintah tidak segera memperbaikinya akan menimbulkan korban,” ungkap Sherly, pengemudi mobil Honda Jazz, Kamis.
Lurah Pademangan Timur Suhadi mengaku sudah melaporkan kejadian tersebut ke instansi terkait dengan harapkan segera di perbaiki. “Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, dipasang beton pembatas jalan agar pengendara tidak melintas di jalan tersebut,” tuturnya.
BANJIR ROB
Penurunan permukaan tanah juga mengakibatkan air laut pasang menyebabkan banjir di Jalan Pangeran Jayakarta, Jalan Raya Gunung Sahari, maupun Jalan Raya Mangga Dua, Jalan Raya Lodan, yang merupakan perbatasan Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara.
“Sudah bertahun-tahun badan jalan di sini hampir tiap hari digenangi banjir sampai setinggi roda ban mobil,” kata Aji, petugas parkir di Jalan Pangeran Jayakarta, Kamis.
Banjir yang berasal dari curah hujan maupun pasang laut, kata Aji, sangat menyengsarakan pemilik bangunan ruko di sepanjang jalan tersebut. “Banyak toko yang tutup dan pindah lokasi karena pelanggan malas datang ke tempat banjir,” tambah pria yang sudah belasan tahun mengais rezeki di kawasan tersebut.
Anyan, salah satu pemilik ruko, mengaku was-was. “Di sini hampir tiap hari banjir. Kata orang-orang, permukaan tanah di sini ambles lantaran digerus air laut dari Pantai Ancol. Ruko nggak bisa buat usaha. Dijual juga susah,” ujar pedagang besi itu.
TURUN 4,1 METER
Perkara amblesnya permukaan tanah akibat eksploitasi air tanah dan serangan instruisi (perembesan) air laut tersebut sudah diingatkan oleh Konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS)
Sawarendro, Deputy Representative Bos Witteveen, salah satu perusahaan anggota konsorsium JCDS, mengutarakan hasil penelitian memperlihatkan penurunan permukaan tanah Jakarta terjadi sejak 1974 dan akan terus meluas. Saat ini, sebanyak 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut.
Dalam kurun waktu 1974-2010 telah terjadi penurunan permukaan tanah di wilayah Jakarta hingga 4,1 meter. Ini khususnya terjadi di wilayah Muara Baru, Cilincing, Jakarta Utara.
Penurunan serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain, seperti di Cengkareng Barat setinggi 2,5 meter, Daan Mogot 1,97 meter, Ancol 1,88 meter (titik pantau di area wisata Ancol), Cempaka Mas 1,5 meter, Cikini 0,80 meter, dan Cibubur 0,25 meter. (joko/wandi/ak/aw)
d
