Pages

Selasa, 18 Januari 2011

Keberanian wasit di semarang

Ada fenomena menarik pada beberapa laga di Liga Primer Indonesia yang baru dibuka 8 Januari lalu. Pada liga yang mengusung semangat profesionalisme dan fair play itu, publik sepak bola bisa menyaksikan keberanian wasit dalam memimpin pertandingan memberi hukuman kepada tim tuan rumah.

Hukuman tak hanya sekadar vonis ringan berupa pelanggaran yang berhadiah tendangan bebas bagi tim tamu, tapi juga berupa kartu kuning, hadiah penalti, bahkan kartu merah yang berujung pada pengusiran pemain. Pemandangan ini jarang ditemui pada liga yang digelar oleh PSSI.

Tren positif itu misalnya tampak ketika Semarang United Football Club menjamu Tangerang Volves di Stadiun Jatidiri Sabtu (15/1) lalu. Winarno Bachtiar (wasit asal Mojokerto) yang menjadi pengadil jalannya pertandingan, menunjukkan keberaniannya memberikan hukuman kepada tuan rumah atas nama sportivitas dan fair play. Betapa tidak, disaat tuan rumah berusaha memecahkan kebuntuan membobol gawang lawan, Winarno justru berani mengganjar kartu kuning untuk pemain Semarang United, Amarildo Luis D Zouza.

Selaku kapten tim, Zouza memprotes keputusan wasit yang tidak menganggap ganjalan yang dilakukan salah satu pemain Tangerang Wolves terhadap Amancio Fortes di daerah pertahanan Tangerang Wolves. Pada laga tersebut, Fortes yang pernah merumput di Manchester United itu memang selalu mendapat kawalan ketat dan dijatuhkan pemain lawan. Sejurus kemudian, Sunarno justru menganggap ganjalan keras yang dilakukan pemain Semarang United terhadap pemain lawan dianggap pelanggaran.

Winarno tak mengindahkan protes Zouza, malah mengganjar kartu kuning terhadap pemain asal Brasil itu karena dinilai tak sportif.

Keberanian Winarno yang lisensi wasitnya terancam dicabut PSSI ini masih berlanjut. Pada menit ke-63, dia memberi hadiah penalti kepada Tangerang Wolves yang tertinggal satu gol atas tuan rumah. Penalti terjadi sebagai ganjaran atas pelanggaran yang dilakukan pemain belakang Semarang United, Haryadi, terhadap Zaenudin Arif di kotak terlarang.

Winarno sadar, keputusan itu bisa membuyarkan kemenangan tuan rumah serta memancing kekesalan ribuan pendukung tuan rumah. Sayang, M Azis Harahap gagal selaku eksekutor gagal melesakkan bola ke gawang.

Atas keberanian tersebut, salah satu penonton, Edi Pambudi mengaku salut atas keberanian dan sportivitas sang wasit. "Keberanian wasit yang 'mengancam' tuan rumah jarang saya saksikan pada pertandingan di Indonesia," ujarnya. Edi mengaku selalu meluangkan waktu untuk menyaksikan klub Semarang saat menjamu lawan di Stadiun Jatidiri.

Keberanian wasit di LPI yang lebih 'ekstrem' ditunjukkan oleh wasit Mas Agus (Surabaya) saat memimpin laga Real Mataram menjamu Bali Devata di Stadiun Maguwoharjo, Ahad (16/1). Pada menit 36, Agus mengusir pemain Real Mataram, Ali Markus karena akumulasi kartu kuning. Ketegasan Agus berbuah kekalahan tuan rumah 0-1 karena harus bermain dengan 10 pemain.

Dua laga LPI tersebut berjalan aman, lancar dan sportif. Pemandangan kontras justru disuguhkan oleh tiga laga pada liga yang dikelola PSSI pada hari yang sama (16/1). Laga Divisi Utama antara Persiku Kudus saat menjamu Persiba Bantul diwarnai kekisruhan. Salah seorang pemain cadangan Barsiba berusaha memukul hakim garis Suhasan (Lumajang) seusai pertandingan. Wasit Norpendi dan Suhasan dinilai berat sebelah karena beberapa kali mengaggap pemain Persiba dalam posisi offside. Persiba kalah 0-1 atas tuan rumah.

Di Rembang, laga antara PSIR Rembang menjamu PSS Sleman diwarnai kekisruhan suporter PSS Sleman yang kecewa atas kepemimpinan wasit yang dianggap menguntungkan tuan rumah. PSIR unggul 2-1.

Di Liga Super Indonesia, pemain Sriwijaya FC Okto Maniani diusir oleh wasit Okky Dwi Putra saat dijamu Persisam Putra Samarinda di Stadiun Segiri, Kota Samarinda. Okto terpaksa mendorong dan menanduk Okky yang dinilai kepemimpinannya berat sebelah dan menguntungkan tuan rumah.

CEO Semarang United Aris Mustafa mengaku menekankan kepada pemainnya untuk selalu menjunjung tinggi fair play dan sportivitas. "Pemain harus menjaga kredibilitas kompetisi (LPI), ujarnya kepada Tempo kemarin. Jika ada pemain yang berlaku tidak sportif, akan terkena sanksi. "Ego pemain adalah sesuatu yang lumrah. Tapi pemain harus mampu mengontrolnya."

Hal senada juga disampaikan Yon Moeis, CEO Batavia Union. "Buat apa menang kalau didapat dengan cara yang tak sportif," kata Yon. Menurutnya, seluruh manajemen klub yang berlaga di LPI selalu mengingatkan sportivitas dan fair play pada seluruh pemain.

Meski demikian, baik Aris maupun Yon mengaku penegakan semangat sportif dan fair paly pada pemain bukan sesuatu yang gampang. Hal ini tak lepas dari adanya pengaruh dari buruknya tradisi liga yang ada selama ini. "Harus kita perbaiki perlahan-lahan dan bersama-sama," kata Yon.

sumber : http://www.tempointeraktif.com/hg/lp...307082,id.html

Galery Produk Kami :