Seorang wanita muda tewas ditangan seorang dukun aborsi karena kehabisan darah. Jenazah korban dimasukan ke dalam koper lalu dikubur di kebun dan dibantu pacar korban.
Awalnya, Didin Jalaludin melaporkan kehilangan anak kandungnya, Tia Setiawati (20) ke Polresta Tasikmalaya. Dalam laporannya, Didin yang warga Kampung Leuwibudah RT 17/07 Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya ini menyebutkan Tia dibawa kabur pacarnya, Dendi Yonapan (21), sejak September lalu.
Polisi yang mendapat laporan segera meminta keterangan Dendi. Kepada polisi, Dendi mengaku pacarnya tewas, ketika kandungannya yang berumur empat bulan digugurkan oleh seorang dukun beranak bernama Romanah (41). Untuk mengungkap tuntas kasus tersebut, polisi pun kemudian membekuk Romanah di rumahnya di Kampung Cipanyarang RT 06/04 Cibatu Ireng, Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa dini hari (18/1). Polisi juga menangkap Gugun (31) anak Romanah, dan Apang (64), karena turut serta membantu proses aborsi.
Menurut Romanah, janin yang berada di perut Tia digugurkan atas permintaan Dendi. Meski bayi dalam kandungan keluar, kondisi Tia kritis. Dan tak lama meninggal dunia dunia.
“Awalnya saya tidak mau melakukan aborsi. Tapi Dendi dan Tia memaksa. Akhirnya proses aborsi dilaksanakan di kamar Hotel Sartika Kawalu Tasikmalaya. Waktu janin keluar, Tia seperti tidak merasakan sakit sedikitpun. Tapi anehnya ia malah meninggal,” kata Romanah.
Setelah Tia tewas, Romanah dan Dendi serta Apang, kebingungan. Lalu diputuskan untuk memasukan jenazah Tia dan bayinya ke dalam koper. Kemudian Dendi minta bantuan Gugun (anak Romanah) untuk menguburkannya. Akhirnya, sekitar 4 KM dari rumah Gugun, koper berisi jenazah manusia itu ditanam.
Setelah kejadian itu Dendi mengaku selalu dihantui ketakutan. Tia selalu datang dalam mimpinya. Dendi gelisah, terlebih orang tua Tia terus mencarinya.
“Hubungan asmara saya dengan Tia tidak direstui orang tuanya. Saya menyetubuhinya hanya satu kali. Itu pun menggunakan kondom. Saya juga heran kenapa bisa hamil. Tadinya saya siap menikahi. Tapi Tia tidak mau. Dan memilih untuk menggugurkan kandungan,” lirih Dendi, di ruang PPA Satreskrim Polresta Tasikmalaya.
Sementara Apang, mengaku hanya sebagai perantara. Memang dia kerap menangani ibunya yang melahirkan. Tapi jika melakukan aborsi tidak pernah.
Kasat Reskrim Polresta Tasikmalaya AKP Anton Firmanto menyebutkan, orang tua korban hingga kini belum mengetahui anaknya sudah tewas. Rencananya Anton akan melakukan pendekatan dan menjelaskan pada orang tua korban jika anaknya tewas akibat aborsi.
“Kita masih mendalami kasusnya. Polisi menyimpulkan pembunuhan itu telah direncanakan,” ucap Anton.
Sementara itu terkait pembongkaran jenazah Tia yang sudah dikubur guna kepentingan otopsi akan dilakukan pada Jum’at depan. Kini kuburan asal-asalan yang ditengahnya ditanam pohon pisang tersebut telah dikelilingi police line.[yan]
http://nusantara.rakyatmerdeka.co.id/news.php?id=15419
